MENUNGGU PAGI
Hmmm...sedikit sulit untuk memulai dari mana, belum terbiasa menulis, hehe. Sebelumnya memang belum pernah cerita tentang kisah hati atau dunia yah biasa disebut dengan "percintaan", yang mungkin Q juga gtw sebenernya itu seperti apa. Cerita ini dari kisah nyata seseorang, anggap saja yang mengalaminya "Q dan Dia". Q adalah orang yang konsisten dan pemilih, dalam artian, jika Q sudah milih A, maka jawabannya adalah A, susah untuk yang lain dan kembali lagi ke-A jika itu/Dia mengecewakan. Yang jelas di sini, gtw mulainya darimana perasaan itu dan tiba-tiba terasa menyesakkan. Jika diingat-ingat n flashback, tahun pertama masa ya katakan apa sajalah, saat pengakaderan dimulai, tanpa sengaja Dia adalah orang pertama yang mengisi buku perkenalan Q, dan yang paling Q ingat panggilannya nama belakangnya, panggilan itu Q dengar saat seseorang memanggilnya. Oke, tahun pertama yang mungkin masa adaptasi dan belum terasa hal yang aneh-aneh...hehe.
Masuk tahun kedua, di mana penjajakan diri dimulai, saat masuk di sebuah organisasi, tanpa sengaja ketemu Dia lagi, ya mungkin posisi saat itu tidak terlalu jauh antara Q dan Dia,. Tapi tetap seperti biasa, Q yang dari SMP disebut ANTI Cowok belum menyadari hadirnya sebuah kata "suka", cuek ja n jalani hari-hari seperti biasa. Kegiatan demi kegiatan berlalu, dokumentasi dan dokumentasi diambil bersama di dalam organisasi itu dan Dia-lah yang selalu pemegang dokumentasinya. Wajah n sikap Q yang saat itu masih polos, mungkin juga sering di-buli, tapi pengalaman itu sungguh tak terlupakan. Saat salah satu kegiatan yang pernah Q pegang membuat Q kecewa, Dia salah satu yang memberi Q semangat, motivasi n pertama kali buat Dia memanggil Q "Adek", kaget, dredeg n sesak mulai kerasa, aneh, benar-benar aneh, ya mungkin bisa disebut Lebay mungkin ya, hehe. Pengen lupakan kalimat n sms yang masih tersimpan *itu* sampai 1 hari yang lalu.
"Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain"
Tahun ketiga, jabatan Q di organisasi tidak lagi sama dan Dia mengontrolnya dari luar sistem. Hati dan pikiran Q mulai sadar akan kata "suka" itu, selalu pengen tahu, pengen kenal Dia lebih, pengen lebih dekat, pengen selalu ada buat Dia. Q kira Dia akan menjauh dengan sikap Q yang seperti itu, tapi Dia malah menerima dan membalas dengan perhatian pula. Dia tahu apa saja makanan yang Q g bisa n kelemahan Q, membuat Q semakin g ngerti, bingung harus semakin menjauh atau mendekat. Semakin lama semakin tahu arti tatapannya yang berbeda, membuat hati Q juga bingung, ada apa sih dengan perasaan ini, jangan sampai, jangan sampai, jangan sampai...:(. Mungkin dari komunikasi dan perhatian yang semakin bla bla membuat perasaan ini semakin tumbuh. Q harus sadari itu, yaaa Q suka Dia, ingin selalu tahu tentang Dia dan didekatnya walau itu *mungkin tidak mungkin*. Perasaan yang salah, rasa suka yang salah, yaaa inilah yang terjadi.
"Dan diriku bukanlah aku
Wktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati"
===Noah: Tak Lagi Sama
Awal tahun keempat, sedikit berubah dan semakin dekat (bingung menulisnya). Saat perpisahaan kakak kelas, seharusnya Dia memberi bunga pada orang yang seharusnya Dia kasi, namun di saat Q melintas terburu-buru lewat di depannya, Dia menyodorkan bunga mawar putih itu pada Q, "Ini buat kamu". Karena Q bingung n harus mencari seseorang dengan cepat-cepat, jadi langsung Q terima saja bunganya (yang sampai sekarang masih Q pajang di dinding kamar Q, kering, tapi berarti). Selesai kegiatan Q dengan beberapa teman, Q buka tas dan ada bunga di dalamnya, hmmm, Q baru ingat kalau Dia tadi memberi Q bunga, senang banget rasanya, tapi Q g pengen merasakan itu juga g pengen melupakan kejadian itu. Satu bulan kemudian, saat Q dan beberapa teman mendapat tugas untuk sebuah penelitian, ternyata Dia juga terlibat dalam tugas itu. Satu malam sebelum keberangakatan, Dia mengajak Q berangkat bareng, setelah basa-basi, Q meng-iya-kan. Keesokan harinya 23 teman berangkat lebih dulu, Q dan Dia menyusul karena suatu pekerjaan yang harus Dia selesaikan dulu, mau g mau Q harus nunggu Dia. Rasanya senang sekali saat Dia mengajak Q. Selama perjalanan Q dan Dia ngobrol dan juga bercanda, mungkin untuk menghilangkan rasa kantuk siang hari. Awalnya tersesat, 1 jam kemudian Q dan Dia sampai di tempat penelitian, bertemu dengan 23 teman lainnya. Hujan turun dengan lebatnya yang membuat kami semua g bisa turun gunung (yaaa penelitiannya di atas gunung). Jalan tanjakan, Dia mendorong Q dari belakang dan menjaga Q, kaget dan g biasa (sedikit alay). Dia selalu menanyakan Q, "Gmn, Kamu kuat?", dan yang pasti Q jawab apa adanya,"Kuat". Hujan reda, ternyata tempat penelitian itu tidak bisa digunakan, dan mengharuskan ke-25 orang ini pindah tempat penelitian. 25 orang lanjut mencari tempat penelitian, tetap tidak bisa digunakan hingga menuju tujuan ketiga, 2 orang teman g bisa ikut lanjut. Oke, 23 orang berangkat menuju tempat ketiga dengan keadaan ekstrim, waktu menunjukkan sore dan hampir gelap. Sampai di tempat ketiga, dingin mulai menusuk tulang dengan bekal jaket yang tipis g ada persiapan sebelumnya. Badan Dia mengigil, Q mulai panik, khawatir n bingung harus bagaimana, tak ajak ngobrol dan lambat laun Dia sembuh, Alhamdulillah. Yang lanjut naik ke puncak kurang lebih hanya 9 orang termasuk Q dan Dia, yang lain beristirahat di bawah. Dengan bekal 1 senter dan jalan yang sempit dan g ada pencahayaan apapun, 1 pasang teman bergandengan tangan (yang pasti cewek cowok lah), 1 teman (cewek) yang bergandengan dengan Q kepleset, secara tidak langsung Q menarik jaket teman yang ada di depan Q, yaaa, tidak lain adalah Dia, kemudian Dia memegang pergelangan tangan Q di atas jaket Q. Dag Dig Dug, itu yang Q rasakan, dingin yang menusuk tulang jadi g terasa.
Jam menunjukkan tengah malam, 15 teman memutuskan perjalanan pulang besok Subuh, 8 lainnya pulang saat itu juga termasuk Q dan Dia. Sampai seperenam perjalanan Q dan Dia terpisah di depan dari 6 teman lainnya, sambil menunggu, dingin mulai terasa lagi n Q mulai g kuat, Dia tanya,"Kamu g dingin?", Q jawab,"Ya dinginlah, ni", sambil meletakkan dua jari Q di leher belakangnya. 6 teman lainnya belum terlihat, sunyi, tiba-tiba tangan kanannya diletakkan di pipi Q langsung dilepas dan bilang,"Ni Q juga dingin, haha". Kaget, belum pernah ada yang menyentuh pipi Q dan Dia pertama kali, dag dig dug, Q tutup kaca helm Q, tak lama kemudian, Dia buka kaca helm Q dan menyusul tangan kirinya diletakkan di pipi Q, Astaghfirullah, ngantuk mix kaget, dredeg g karuan, jd speechless n g bisa berkata apa-apa. 6 teman lainnya datang dan kami melanjutkan perjalanan. Seperempat perjalanan mulai terasa dingin angin malam lebih menusuk daripada dinginnya suhu di gunung, kantuk mulai menjadi, tak sadar Dia duduk semakin ke belakang sampai jarak di atas motor tinggal 3 cm mungkin. Dia bilang,"Kamu ngantuk ya?, senden ja gpp", Q jawab dengan bohongnya,"G kok, Q g bakal ngantuk". Kepala Q sudah mulai berat dan jelas kelihatan Q benar-benar ngantuk, Dia bilang lagi,"Senden ja gpp". Karena kepala Q sudah g tahan, akhirnya dengan tangan sendekap di perut Q, Q sendenkan kepala Q di bahu kanannya, entah Dia terasa berat dan sakit karena kepala Q, g tahu, saking ngantuk. Pertengahan perjalanan, Q terbangun karena goncangan ban motor yang melintas di jalan yang berlubang. Sedikit ngobrol, dan Dia menyuruh Q senden lagi. Khawatir goncangan sebelumnya, g sengaja kedua tangan Q memegang jaket bawah samping kanan kirinya. Tak lama kemudian, tangan kirinya memegang tangan kiri Q dan meletakkannya di saku kirinya. Terbangun n super amat sangat kaget Q bilang,"Ada apa?", Dia jawab,"Takut Kamu jatuh". Tiga perempat jalan, tangan kirinya menarik jaket di lengan kanan Q dan meletakkan tangan kanan Q di saku kanan jaketnya. Super ngantuk Q jadi hilang diganti bingung, senang, dag dig dug g karuan. Dia menarik helm Q dan menyendenkan kepala Q ke bahunya lagi. Dia pegang kedua tangan Q dari luar jaket dengan tangan kirinya, tangan kanannya sambil xetir. Event yang tak terlupakan dan g pengen stop di sana dari malam itu sampai sekarang dan membuat Q merasa bersalah, menyusahkannya dan g tahu. Walau kejadian itu sangat berarti, tapi ingin rasanya Q klarifikasi kejadian itu kalau *Q sangat menyusahkan, mengantuk, tidak bisa berpikir normal dan khilaf*, mungkin hal ini baru Q sampaikan besok langsung dengannya.
"Begitu banyak hal yang ku alami, yang ku temui
Saat bersamamu ku rasa senang, ku rasa sedih
Air mata ini menyadarkanku
Kau takkan pernah jadi milikku"
===Noah: Hidup Untukmu,Mati Tanpamu
Setelah kejadian itu, yaaa sikap seperti biasa sebelumnya, tapi lambat laun Dia menjauh dan mulai dekat dengan cewek lainnya yang membuat Q sesak. G pengen rasain ini lagi, g pengen rasa ini terasa lagi, lupakan, lupakan, lupakan, Dia tidak menyukaiku, kejadian waktu itu hanya kejadian biasa buat Dia, walau buat Q adalah kejadian yang berarti. Dia jarang n hampir g pernah komunikasi lagi, kembali cuek yang membuat Q sesak dan ingin cepat buang jauh-jauh perasaan ini, perasaan yang g seharusnya ada dan terjadi. Q mulai membencinya (apakah benar benci atau hanya emosi?). Setelah dengan cewek yang dekat dengannya setelah Q, Dia mulai dekat dengan cewek lain lainnya lagi. Sesak semakin sesak, lepas ingin lepaskan, buang ingin buang, beban hati pengen buang jauh-jauh. Oke, fine, cukup sampai di sini saja Dia memanfaatkan Q, tak ada lagi ruang buat Dia. Sejauh ini, hanya memanfaatkan Q, Q salah menilainya, Q salah memberikan hati padanya, SALAH.
“..tapi sekarang..
..aku udah mutusin..
..aku nggak akan milih siapa-siapa..!
..kayaknya aku lebih baik sendiri sekarang..
..dan aku juga gak mau sakit lagi..”
"....aku nggak pernah bener-bener tau.."
===Peter Pan: Menunggu Pagi
Jumat, 22 Februari 2013
Langganan:
Entri (Atom)

